MOTIVASI DALAM DAKWAH
KATA PENGANTAR
Segala puja dan puji marilah sama-sama kita ucapkan kepada Allah Swt
yang telah menciptakan kita dalam keaadaan sempurna. dan telah
menganuggrahi kita akal dan pikiran. sehigga pada saat ini kita masih
dapat mempergunakan akal tersebut untuk berpikir yang positif. Salawat
dan salam tak selupanya kita haturkan kepada ruh junjungan alam ya`ni
Nabi besar Muhammad Saw. Yang telah membawa kita dari alam yang penuh
dengan kesesatan dibawanya kealam yang penuh ilmu pengetahuan boleh
dikatakan MINAJJULUMATI ILANNUR yang sampai saat ini masih kita kecap
buah dari perjuangan beliau. Dan terima kasih kami ucapkan kepada semua
rekan-rekan Mahasiswa yang turut berartisipasi dalam rangka diskusi kita
dalam membahas masalah ”MOTIVASI DALAM DAKWAH’’ ini. dan
terima kasih kami ucapkan kepada dosen pengasuh mata kuliah PSIKOLOGI
DAKWAH ini yang telah sangat banyak membantu kami dalam menyepurnakan
makalah ini.
PENDAHULUAN
Adapun
psikologi dakwah itu sendiri adalah merupakan ilmu pengetahuan tentang
segala sesuatu yang menyangkut jiwa dari pada Da’i serta sasaran-sasaran
dakwah baik secara individual maupun kelompok social, merupakan
pengetahuan uyang lebih bersifat praktis dari pada teoritis. Sifat
demikian membawa kepada fleksibilitas yang luas dengan memperhatikan
factor-faktorsituasi dan kondisi sasaran yang di hadapi, justru oleh
karena manusia adalah makhluk hidup menurut waktu dan tempat.
Adapun
factor situasi dan kondisi tersebut banyak menyangkut masalah
kecenderungan, keinginan, kemauan/kehendak, perhatian, minat, perasaan,
dan segala aspek kejiwaan yang mengandung tendensi perkembangan dalam
larangan hidup manusia. Semua kemampuan dan tendensi kejiwaan dirangsang
dan di gerakkan kearah tujuan dakwah/penerangan agama. Dengan demikian
maka tugas psikologi dakwah adalah memberi landasann dan pedoman kepada
metodologi dakwah karena metodologi baru dapat aktif dalam penerapannya
bilamana di dasarkan atas kebutuhan-kebutuhan hidup manusia sebagaimana
di tunjukkan kemungkinan perumusannya oleh Psikologi
MOTIFAASI DALAM DAKWAH
Istilah
motiv mengacu pada sebab atau mengapa seseorang berprilaku dan dari
kata motiv inilah terbentuk kata motivasi yang mana motivasi tersebut
mempunyai makna suatu pernyataan yang komplek di dalam suatu organism
yang mengarahkan pada tingkah laku sesuatu atau perangsang. Bila di
pakai dalam arti ini , maka motivasi akan meliputi segala aspek
psikologi. Suatu organism yang di motivasi akan melakukan aktivitasnya
secara lebih giat dan lebih efesien di bandingkan dengan organism yang
beraktivitas tanpa adanya motivasi. Selain menguatkan organism, motivasi
cenderung mengarah pada suatu tingkah laku tertentu.
Istilah
motivasi sendiri baru digunakan pada awal abad ke dua puluh. Selama
berates-ratus tahun pandangan utama para pakar filsafat dan teologi
ialah bahwa manusia adalah makhluk rasional dan intelek yang memilih
tujuan dan menentukan sederetan perbuatannya secara bebas. Nalarlah yang
menentukan apa yang dilakukan oleh manusia dan konsep motivasi tidaklah
perlu tapi pada abad ke XVII para pakar filsafat mulai meninggalkan
konsep rasional dan beralih menganut pandangan mekanistik tentang
prilaku.
Dan
selama tahun 1950-an, para psikolog mulai meragukan dorongan dari
motivasi sebagai penjelasan tentang semua jenis prilaku manusia. Bagi
mereka organism tidak di dorong untuk beraktivitas oleh dorongan
internal semata-mata, stimuli eksternal yang di sebut insentif juga
memegang peranan penting dalam menggugah prilaku. Motivasi akan di
fahami secara baik sebagai interaksi antara stimuli dalam lingkungan dan
keadaan fisiologi dari organism tersebut.
Pendekatan
yang lebih baru tehadap teori motivasi ini mefokuskan perhatian pada
peran insentif, yaitu keadaan lingkungan yang menjadi motivasi bagi
organisme. Suatu insentif positif menggugah organism itu untuk
medekatinya dan insentif negative mengarahkan prilaku kea rah
menjahuinya. Seseorang yang merasa haus, insentif positifnya akan
mencari sesuatu yang dapat menghilangkan rasa hausnya yakni berupa air.
Insentif negative akan menjauhkan seseorang dari suatu benda atau
situasi yang dapat mengakibatkan rasa sakit.
B. motivasi dalam al-quran
Dr. Usmannajati melakukan penelitian motifdalam hal ini:
motiv fisiologis. Al –quran telah menemukan bahwa dorongn fisikologis dapat di kata gorikankan dalam hal sebagai berikut
- Dorongan untuk menjaga diri ( QS : an-nahl 80-81)
Artinya
: 80. Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal
dan dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit
binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu
berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu
domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan
(yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).
81.
Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang Telah dia
ciptakan, dan dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung,
dan dia jadikan bagimu Pakaian yang memeliharamu dari panas dan Pakaian
(baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).
- Dorongan untuk mempertahankan kelestarian hidup (QS : al-hujarat 13 dan al ahqshaaf 15 )
Artinya
: Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang
yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal.
Artinya
: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang
ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya
dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga
puluh bulan, sehingga apabila dia Telah dewasa dan umurnya sampai empat
puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri
nikmat Engkau yang Telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku
dan supaya Aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah
kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.
Sesungguhnya Aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya Aku termasuk
orang-orang yang berserah diri".
C. Peran Motivasi Dalam Proses Dakwah
Motivasi
mengandung tiga komponen pokok, yaitu menggerakkan, mengarahkan dan
menopang tingkah laku manusia. Motivasi mengarahkan tingkah laku
individu kearah suatu tujuan, menguatkan intensitas dan arah
dorongan-dorongan dan kekuatan individu tersebut. Tujuan motivasi bagi
seorang da’i adalah menggerakkan atau memacu objek dakwah (mad’u) agar
timbul kesadaran membawa perubahan tingkah laku sehingga tujuan dakwah
dapat tercapai. Selanjutnya seorang da’i dituntut untuk mengarahkan
tingkah laku mad’u sesuai dengan tujuan dakwah kemudian menopng tingkah
laku mad’u dengan mencipatakan lingkungan yang dapat menguatkan
dorongan-dorongan tersebut. DAN Penting bagi seorang da’i mengetaui
motif-motif mendesak dari sasaran dakwahnya agar seorang da’i mampu
menyesuaikan materi dakwah. Metode dakwah atau strategi dakwah yang
tepat agar tujuan dakwah dapat tercapai..
Wood
worth mengklasifikasikan motif menjadi un-learned motives dan learned
motives. Unlearned motives adalah motiv yang timbul di sebabkan oleh
kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tubuh, seperti rasa
lapar, haus, sakit. Sedangkan learned motives dapat
berupa perasaan suka dan tidak suka. Aspek ini meliputi motif-motif
untuk mendekatkan diri dan menjauhkan diri dari sesuatu.
Sedangkan
menurut Fillmore H. Sanford; Melihat asal kata motivasi, yaitu yang
berarti gerakan karenanya ia mengatakan motivasi sebagai kondisi yang
menggerakkan suatu organisme yang mengarah kepada tujuan
Dan
masih banyak pendapat-pendapat para psikolog dalam memberikan
pengertian dan teori-teori tentang sudut pandang motivasi. Dan di tinjau
dari sudut asalnya, para psikolog menggolongkan motif yang ada pada
diri manusia ke dalam motif biogenetis dan motif sosiogenetis, atau
motif yang berkambang pada diri manusia yang berasal darin organismenya
sebagai makhluk biologis dan motif yang berasal dari lingkungannya.
Motif biogenetis merupakan motif yang berasal dari kebutuhan organisme
tertentu demi kelanjutan kehidupanya secara biologis. Motif biogenetis
ini bercorak universal dan kurang terikat pada lingkungan kebudayaan
tampat manusia itu berada. Sedangkan motif sosiogenetis adalah motif
yang dipelajari manusia berasal dari lingkungan kebudayaan tempat
manusia itu berada. Motif sosiogenetis tidak berkembang dengan
sendirinya tapi berdasarkan interaksi dengan orang lain atau lingkungan
Disamping
motif biogenetis dan sosiogenetis, tedapat penggolongan motif untuk
menjelaskan motif manusia sebagai makhlluk berketuhanan, yaitu motif
teogenetis. Motif teogenetis berasal dari interaksi antara manusia
dengan tuhannya. dalam hal ini WA. Gerungan mengatakan bahwa kepercayaan
kepada tuhan yang maha gaib adalah suatu tenaga motivasi yang paling
kuat dalam masyarakat karena hal itu pada umumnya merupakan sumber
kedamaian yang tahan lama, suatu dorongan keinginan untuk
mempercayai_Nya adalah kekuatan pendorong yang potensional dalam
kehidupan manusia
Dalam
proses dakwah, motivasi sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan
sentimen keagamaan dalam hidup kelompok, terutama di kalangan remaja.
Sentimen keagamaan ini dapat berkembang bilamana didekati melalui
sesuatu organisasi, klab-klab yang di jiwai dengan dakwah in Action
dalam bentuk kegiatan seni budaya misalnya sandiwara, musik,
keolahragaan, dan sebaginya.
Begitu
juga dengan pesan dakwah yang di sampaikan oleh da’i, harus bisa
membawak si mad’u hanyut dengan ajakan dakwah kita sehingga pesan dakwah
kita di terima dan bisa dijalan kan oleh si mad’u dengan baik.
D. 5 KONSEP MOTIVASI DAKWAH
Berbicara
tentang hakikat adalah berbicara sesuatu secara mendasar. Seorang
penyanyi dangdut dengan lenggak lenggok erotik di atas panggung
menyanyikan lagu ajakan berbakti kepada Alloh SWT, adakah ia seorang
da’i ? Jawabannya jelas, yaitu bahwa penyanyi itu membawakan lirik-lirik
dakwah, tetapi pada hakikatnya ia tidak sedang berdakwah. Dakwah bukan
gebyar aktifitas dakwah banyak kita jumpai, tetapi hakikinya, itu belum
tentu suatu dakwah, sebaliknya boleh jadi justeru kontra dakwah. Lalu
dakwah itu apa? Hakikat dakwah bisa dilihat dari sang da’i, bisa juga
dari makna yang dipersepsi oleh masyarakat yang menerima hanya bunyi
kata-kata, tetapi ajakan psikologis yang bersumber dari jiwa da’i.
Gebyar- dakwah.
- Dakwah sebagai tabligh. Tabligh artinya menyampaikan, orangnya disebut muballigh. Dakwah sebagai tabligh wujudnya adalah muballigh menyampaikan materi dakwah (ceramah) kepada masyarakat. Materi dakwah bisa berupa keterangan, informasi, ajaran, seruan atau gagasan. Tabligh biasanya dilakukan dari atas mimbar, baik di masjid, di majlis taklim atau di tempat lain. Pusat perhatian tabligh adalah pada menyampaikan, illa al balagh, setelah itu bagaimana respond masyarakat sudah tidak lagi menjadi tanggungjawab muballigh. Bagi masyarakat, tabligh yang tidak jelas hanya bermakna bunyi-bunyian, tabligh berupa informasi akan menghasilkan pengertian, tabligh berupa renungan bisa menjadi penghayatan, dan dakwah berupa gagasan bisa menggelitik masyarakat untuk terus berfikir. Bagi muballigh, menyampaikan materi pesan Islam yang ia sendiri tidak faham, pada hakikatnya ia adalah kaset yang tak berjiwa. Kekuatan tabligh adalah jika sang muballigh benar-benar menjadi fa‘il (subyek), menjadi pelaku yang merasa ter¬panggil tanggung jawabnya untuk melakukan tabligh. Banyak muballigh yang tidak menjadi fa‘il, tetapi menjadi maf‘ul (obyek), Ia tidak memiliki program tetapi diprogram oleh orang lain. Ia hanya bekerja memenuhi pesanan pasar, yakni menunggu undangan tabligh. Fa‘il jelas prestasinya, tetapi maf‘ul susah diukur prestasinya.
- Dakwah Sebagai Ajakan. Orang akan tertarik kepada ajakan jika tujuannya menarik. Oleh karena itu da’i harus bisa merumuskan tujuan kemana masyarakat akan diajak. Ada dua tujuan, makro dan mikro. Tujuan makro cukup jelas yaitu mengajak manusia kepada kebahagiaan dunia akhirat. Da’i dan muballigh pada umumnya tidak pandai merumuskan tujuan mikro, tujuan jangka pendek yang mudah terjangkau, yang menarik hati masyarakatnya.
- Dakwah sebagai pekerjaan menanam. Berdakwah juga mengandung arti mendidik manusia agar mereka bertingkahlaku sesuai dengan nilai-nilai Islam. Mendidik adalah pekerjaan menanamkan nilai-nilai ke dalam jiwa manusia. Nilai-nilai yang ditanam dalam dakwah adalah keimanan, kejujuran, keadilan, kedisiplinan, kasih sayang, rendah hati dan nilai-akhlak mulia lainnya. Laiknya pekerjaan menanam, benihnya harus unggul, tanahnya harus subur, disiram dan dijauhkan dari hama serta butuh waktu lama hingga benih itu tumbuh berkembang menjadi rumput hijau yang indah atau menjadi pohon tinggi yang rindang dan berbuah. Guru di sekolah (dan lembaga pendidikkannya) adalah da’i yang berdakwah berupa menanam. Sudah barang tentu tidak semua guru menjadi da’i. Guru yang da’i adalah guru yang sudah bisa menjadi pendidik, bukan guru yang sekedar menjadi pengajar. Pengajar hanya mentransfer pengetahuan, sedangkan pendidik mentranfer pola tingkah laku atau kebudayaan.
- Dakwah berupa akulturasi budaya. Dakwahnya Wali Songo di Pulau Jawa merupakan contoh konkrit dakwah akulturasi budaya. Para Wali tidak mengubah bentuk-bentuk tradisi masyarakat Jawa, tetapi mengganti isinya. Tradisi selamatan tiga hari, tujuh hari, seratus hari, dulunya adalah tradisi masyarakat Jawa jika ada keluarganya yang meninggal dunia. Dalam acara itu diisi dengan begadang, makan, judi dan minuman keras. Oleh para wali, bentuknya dipertahankan, makannya dipertahankan tetapi yang maksiat diganti dengan hal-hal yang Islami, yakni membaca kalimah-kalimah tahlil. Makananyapun diganti berupa nasi tumpeng yang melambangkan tauhid, dan setiap orang pulang dari tahlilan dengan membawa brekat (berkah). Dengan akulturasi budaya, orang Jawa tanpa disadari kemudian telah menjadi Islam. Kelemahannya, sinkretisme tidak bisa dihindar.
- Dakwah berupa pekerjaan membangun. Secara makro dakwah juga bermakna membangun, membangun apa? Sebagaimana dicontohkan dalam sejarah, dakwah juga bisa dimaksud untuk membangun tata dunia Islam (daulah Islamiyah), lebih kecil lagi membangun negara Islam (nasional), lebih kecil lagi membangun masyarakat Islam atau Islami, dan lebih kecil lagi membangun komunitas Islam. Dalam membangun sering tak bisa menghindar dari membongkar bangunan lama, dan ini sering bermakna konflik. Laiknya pekerjaan mendirikan bangunan, dakwah dalam bentuk membangun harus melalui tahapannya. Pertama ada desain atau maket dari bangunan yang akan didirikan. Kedua, harus dilakukan uji tata guna tanah (land use), dalam hal ini budaya setempat, yang akan menjadi pijakan berdirinya sebuah bangunan. Pekerjaan pertama dan kedua bisa bertukar tempat urutannya, artinya ada konsep dulu baru mencari tempat atau konsep dibangun sesuai dengan keadaan tanah. Ketiga, harus ada tenaga ahli, dari arsitek hingga kenet tukang batu, dan keempat tersedianya bahan bangunan. Membangun negara Islam tanpa konsep yang telah diuji sahih hanya akan melahirkan madlarrat, sebagaimana juga membangun tanpa tenaga ahli dan biaya. Bagi kaum muslimin Indonesia, yang paling relevan adalah membangun komunitas Islam dan masyarakat Islam atau masyarakat Islami, karena Indonesia tanahnya (budayanya) kondusif, konsepnya tinggal menyempurnakan, tenaga SDM nya relatif ada dan biaya tidak terlalu mahal.
KESIMPULAN
Dengan
adanya motivasi dalam dakwah merupakan kekuatan yang mampu menghibnotis
dan mewujukkan manusiamemenuhi harapan, kita dapat menyimpulkan dengan
adanya moyivasi dalam dakwah ini adanya sebuah perubahan pemikiran dalam
diri seorang individu yang di tandai dengan dorongan yang efektif dan
reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan dekwah.
DAFTAR PUSTAKA
Muchin Lalu Efendi. Psikologi Dakwah. Jakarta : Kencana. 2006
Arifin Muhammad. Psikologi Dakwah. Jakarta : Bumi Aksara. 1991
Bahm J Archie. What Is Science. New Mexico : World Book. 1980
Dermawan Andy. Metodologi Ilmu Dakwah. Yogyakarta : Lefsi. 2002
Azwar Saiful. Penyusun Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 1999
Tidak ada komentar:
Posting Komentar